7 Tipe Pendaki Pas Pulang Open Trip, Kamu yang Mana?

Naik gunung bareng open trip itu seru. Kenalan sama orang baru, makan mi instan di ketinggian, foto di puncak sambil pura-pura nggak kedinginan. Tapi bagian paling jujur dari sebuah trip justru terjadi setelah turun, waktu semua orang kembali ke rumah masing-masing dan sifat aslinya keluar.

Kira-kira begini tipe-tipe pendaki sepulang open trip. Coba cek, kamu yang mana.

1. Si galeri dua ribu foto

Belum juga sampai rumah, dia sudah mengirim 2.000 foto ke grup. Isinya 1.800 foto yang mirip semua, beda posisi jempol sedikit. Sisanya video kabut 3 menit yang tidak memperlihatkan apa-apa selain putih. Semua orang mengunduh, tidak ada yang melihat sampai habis.

2. Si mendadak filsuf

Satu malam di puncak cukup untuk mengubah hidupnya, setidaknya di caption. "Gunung mengajarkan bahwa langkah kecil tetap membawa kita ke atas." Padahal waktu itu dia minta istirahat setiap sepuluh langkah dan ditarik leader di tanjakan terakhir.

3. Si pegal linu tiga hari

Turun tangga rumah pakai teknik menyamping seperti kepiting. Jongkok di toilet jadi tantangan baru. Setiap ditanya kenapa jalannya aneh, jawabannya selalu sama, "habis summit". Dia bangga, tapi tetap minta dipijat.

4. Si lupa balikin tenda pinjaman

Tendanya pinjam dari teman kantor, matras dari sepupu, headlamp dari tetangga. Sudah dua minggu sejak pulang, semua masih rapi di kolong kasur. Teman kantornya mulai mengirim stiker yang maksudnya jelas, tapi dia pura-pura tidak paham.

5. Si "kapok, nggak lagi-lagi"

Di tanjakan dia bersumpah ini pendakian terakhirnya. Di jalan pulang dia masih mengeluh dengkulnya. Tiga hari kemudian dia orang pertama yang bertanya di grup, "trip bulan depan ke mana, min?"

6. Si pengisi daya darurat

Begitu sinyal muncul di basecamp, ponselnya tinggal 2 persen dan powerbank sudah habis dipakai memutar lagu sepanjang jalur. Sisa perjalanan dia habiskan mencari colokan di warung, rest area, dan masjid. Kabar ke orang rumah baru terkirim waktu bus sudah masuk tol.

7. Si carrier bom waktu

Carrier-nya diletakkan di pojok kamar dengan niat dibongkar besok. Besoknya jadi lusa, lusanya jadi minggu depan. Di dalamnya ada kaus basah keringat, kaus kaki yang kena embun, dan celana yang sempat jatuh di jalur becek, semua menunggu dengan sabar. Waktu akhirnya resleting dibuka, orang serumah langsung membuka jendela.

Kalau kamu tipe nomor tujuh, tenang, kamu tidak sendirian. Ada cara supaya carrier tidak berubah jadi senjata biologis. Kirim saja cucianmu ke Laundry Santuy, laundry kiloan antar-jemput di Tegal Alur, Jakarta Barat. Kamu bisa cek lokasi Laundry Santuy di Google Maps, lalu biarkan mereka yang berurusan dengan bau gunung. Kalau penasaran kenapa bau itu susah hilang, penjelasannya ada di artikel kenapa baju habis naik gunung baunya awet.

Jadi, kamu tipe yang mana? Tulis di kolom komentar, atau tandai teman trip yang paling cocok dengan salah satu tipe di atas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Baju Habis Naik Gunung Baunya Awet Banget? Ternyata Ini Biangnya